Sabtu, 01 Mei 2010

perahu kertas,catatan seorang demonstran,dan ketidakadilan adat..

0

perahu kertas

misi saya sudah terlaksana. setelah bela-belain melepaskan event rafting demi mengejar acara "pulang kampung" yang hanya terjadi 5 tahun sekali (paling sebentar), akhirnya cita-cita menjadi agen neptunus dan menghanyutkan perahu kertas di "kubangan air" yang luas tercapai juga, walaupun tidak jadi menulis apa yang ingin ditulis sebelumnya. paling tidak dapat lah ikhtisarnya =)

2 hari yang lalu, tepatnya tanggal 29 april 2010, saya dan beberapa anggota keluarga di Siantar berangkat menuju Pangururan, kampung alm. oppung saya yang terletak di Pulau Samosir untuk ziarah. perahu kertas yang artinya "surat kepada neptunus" ini akhirnya bisa saya hanyutkan beberapa menit setelah kapal fery menuju Tomok berangkat. entah akan bermuara kemana, atau bahkan hancur menjadi bubur kertas sebelum sampai ke Neptunus (btw Nus, sekarang udah hijrah ke danau kah? abis susah nih Nus nyari laut. maklum deh)

catatan seorang demonstran

buku tua yang berhasil saya bawa dari etalase koleksi buku tua alm. oppung saya ini akan menjadi "harta" baru saya. ngga ridho sampai-sampai nasibnya sama dengan "Aku" nya Chairil Anwar. hilang ngga tau kemana gara-gara ngga balik-balik.

ketidakadilan adat terhadap perempuan

hari ini membuat saya menarik kesimpulan bahwa ADAT TAK PERNAH ADIL TERHADAP PEREMPUAN! kami tahu kami tak membawa nama dan keturunan, tapi apakah hak yang seharusnya menjadi hak pun harus dikompromikan karena kami perempuan?!
bukan masalah besar-kecilnya nilai yang menjadi objek, tapi sangat tidak konsisten ketika orang tua mengatakan DIA ADIL TERHADAP ANAK-ANAKNYA , lantas kemudian ketika apa yang menjadi hak perempuan harus dibagi kepada laki-laki, karena dia LAKI-LAKI. seharusnya DIA. sementara ketika LAKI-LAKI mendapat hak yang menjadi haknya, perempuan tidak punya sedikit pun hak untuk bersuara. karena dia PEREMPUAN.

siapa yang bilang tidak ada lagi pengkotak-kotakan gender?!

ADAT MEMBUAT SEMUANYA TERKOTAK-KOTAK DAN TIDAK ADIL

Senin, 12 April 2010

A LETTER TO KUGY

0

"saya tak mengira kita berdua punya setengah alur cerita yang sama.
jika kau adalah seorang makhluk nyata dalam keseharian saya, saya akan mengatakan padamu bahwa saya tahu bagaimana rasanya itu. bahkan sangat tahu.

berpura-pura adalah hal yang paling melelahkan yang harus kita lakukan. tapi tak satu pun yang dapat menyalahkan bahwa hati wanita adalah lautan rahasia terdalam. bahkan ketika saya ingin mempersalahkan semua ini, saya tiba-tiba teringat akan sebuah kodrat yang harus kita rasakan. mungkin itu lebih baik, setidaknya masih membuktikan bahwa kita masih punya hati. setidaknya.

saya tertawa, hingga menangis membaca setiap pikiran dan usahamu melarikan diri. itulah yang sangat saya inginkan saat ini. sangat menyebalkan karena semua itu hanya menjadi kegagalan karena dengan satu sentuhan Tangan Tuhan, Ia memunculkan orang yang membuat saraf-saraf kita sebegitu inginnya menghindar ini kemudian ada tepat di depan mata kita.
saya harap Tuhan tidak pernah menempelkan magnet pada kami, sebelumnya jika Ia sendiri tahu bahwa kami bukanlah pasangan yang nantinya akan saling menjaga dan melengkapi. itu agak tidak adil.

dan sekarang saya harus bersiap-siap menjadi "artis" dalam "sandiwara cerita" ini. sulit sekali untuk menunjukkan tidak apa-apa, sementara memang ada yang salah dengan saya. ada yang salah dengan perasaan saya.

tak ada pilihan lain selain meneruskan sandiwara cerita ini karena saya sudah terlanjur memerankan setengah alur.

saya harap Tuhan cukup bijaksana dan berbaik hati untuk memberikan saya ending yang sama indahnya denganmu :) "
Regards,



nopai semangka hangat

Rabu, 31 Maret 2010

AGEN NEPTUNUS

0

sudah hari kedua sejak senin menuju selasa, sejak saya mulai terhipnotis dan terjebak dalam "perahu kertas"

ya. perahu kertas. sebuah novel hasil rekomendasi seorang teman saya, Ignatius Fredy Sitindaon a.k.a pretty. hoow, cinta damai prett >o<
saya belum pernah membaca karya Dee sebelumnya, tapi judul ini cukup membuat saya tertarik. sederhana. dan bocah sekali. mengingatkan saya pada masa kecil yang cukup terbilang menyenangkan dengan sekumpulan perahu kertas. perahu kertas dari kertas-kertas ulangan yang bernilai jelek.

saya tak pernah tahu sinopsis cerita ini sebelumnya. pretty cuma bilang cerita percintaan. cuma saya pikir ini agak bombastis karena berhasil membius si kribo itu untuk menghabiskan satu kertas hanya untuk mencoret-coret nama Kugy sepanjang mata kuliah content development. seperti orang kesurupan. si kribo Fredy, bertampang rambo, berhati pinkan mambo (lagi, cinta damai ya fred) bisa terpikat, tersanjung, sampai terpeleset sama cerita itu?! wah, kalo Fredy ngga mental ama cerita begini, saya harus nyoba. pokoknya indikatornya Fredy. patokannya Fredy.

akhirnya setelah menempuh beberapa hari untuk mempertimbangkan, membeli atau meminjam (biasa insting mahasiswa, selama bisa menikmati yang gratisan, kenapa ngga? ngga ada yang lebih murah daripada gratis *ting ting ting*), saya putuskan untuk membeli. karena mengingat kapasitas saya yang tak mungkin bisa membaca buku berhalaman 400an lebih itu dalam waktu sehari-dua hari, sementara si pretty pengennya cepet-cepet dibalikin, karena bakal kangen sama si Kugy. mulai bodoh. ckckck. efek yang sangat dahsyat man.

perahu kertas sampai juga di tangan saya. setelah harus menempuh perjalanan pulang hujan-hujanan, dan setengah mati menyelamatkan si perahu kertas agar tidak keseret banjir bandang.

tak ada niat yang lebih mulia selain memberantas kebodohan, salah satunya dengan membaca buku.yeah! saya merencanakan untuk membaca si perahu kertas di hari libur kuliah saya. tapi sayang sekali, tangan saya cukup aktif untuk membuka chapter 1 dari 46 chapter. niat yang tadinya hanya ingin "menyicil" membaca berimbas pada aksi "baca buku sampai habis". jadilah saya, menghabiskan malam menghajar fajar untuk membaca buku. cukup 1 hari. boro-boro menunggu libur kuliah. 434 halaman tuntas dalam semalam. mata hampir jatuh. tugas manajemen proyek pun terbengkalai. fantastis si perahu kertas.

..............

AGEN NEPTUNUS

jika satu kebiasaan dan ritual aneh saya, adalah naik *a**i, maka Kugy Karmachameleon adalah menghanyutkan perahu kertas di aliran air. entah di got, di empang, di kali, apapun itu. aliran air yang ia yakini akan sampai di laut. sampai kepada neptunus.

ia meyakini dirinya adalah agen neptunus. mata-mata neptunus yang dikirim ke darat untuk melaporkan apapun yang terjadi di darat.

saya cukup terharu dengan kebiasaan ini.
mungkin memang ditakdirkan harus ada orang-orang aneh untuk menyemarakkan bumi ini.

si agen neptunus ini, pada akhirnya menginspirasikan saya tentang sesuatu. tentang "suara" yang pernah saya abaikan dulu. tentang "jiwa" yang pernah saya tinggalkan dulu. dan tentang "hati" yang pernah saya lupakan dulu.

MENULIS.

cita-cita yang pernah saya lupakan karena pikiran dan pandangan saya yang semakin realistis. kerealistisan yang membatasi cara berkhayal saya. sampai akhirnya itu mati. dan tidak ada awalnya lagi setelah bertahun-tahun. saya ingat bagaimana dulu saya smp senang sekali menulis. di buku diary, di buku tulis, bahkan di kertas- kertas kosong yang walaupun pada akhirnya berbuangan entah kemana. saat saya masih tidak peduli apakah yang saya tulis itu masuk akal atau tidak.

realitas yang mengubur cita-cita saya menjadi wartawan, karena "wartawan? mau jadi apa? mau makan apa?"
ya. realitas yang harus saya akui. "wartawan mau makan apa?"
pekerjaan yang sangat beresiko, tapi tidak cukup menjanjikan (di mata orang tua)

entah apa yang salah, karena darah kakek saya cukup kental dalam diri saya. idealisme dan cita-cita yang sama. hanya bedanya, dia berhasil mencapainya. dan saya tidak.

dialah sosok wartawan yang membuat saya belajar menulis hingga saat ini. seseorang yang menginspirasikan saya bahwa betapa banyaknya hal yang dapat kita tulis tentang dunia ini. tentang hidup yang singkat ini.

entah agen neptunus ini dapat menggerakkan jari saya sampai akhir atau tidak.

dan jika ini adalah sebuah perahu kertas, saya cuma ingin menyampaikan hal ini kepada neptunus,

"yth.neptunus, terimakasih untuk agenmu yang telah menginspirasikan saya tentang satu hal. saya ingin menulis lagi. suatu saat, saya ingin membaca tentang kehidupan yang saya tulis. jadi jangan biarkan saya untuk berpikir realistis..."


Selasa, 23 Maret 2010

PERAN DAN PENGARUH KONTEN LOKAL DALAM PROSES PENDIDIKAN

0

Coba tanyakan anak-anak zaman sekarang, siapa yang hari-harinya tidak menonton televisi? Terlepas dari apakah yang ditonton adalah acara anak-anak ataupun acara-acara music dewasa yang secara tidak langsung membuat mulut mereka bernyanyi-nyanyi lagu dewasa. Kesannya memang kurang ideal buat anak-anak, namun itulah ironisme yang terjadi di kehidupan anak-anak sekarang.

Televisi memang media yang paling ampuh untuk menyerbu audiencenya dengan segudang informasi dan hiburan. Anak-anak tahu lagu The Potters karena televisi, anak-anak tahu Spongebob karena televisi, anak-anak tahu si Unyil karena televisi, bahkan mereka tahu Upin-Ipin juga karena televisi.

Entah media cukup menyadari akan pentingnya konten-konten local yang mendukung proses pendidikan atau tidak bagi anak-anak, yang jelas adalah, munculnya beberapa program yang sifatnya edutainment adalah kemajuan yang cukup positif. Kenapa konten local? Karena konten luar negeri seperti Sesame Street ataupun Dora dengan “siblings-nya” si Diego, belum tentu memiliki persamaan budaya dengan Indonesia. Karena itu, jika memang harus diadaptasi, saya rasa memang perlu disesuaikan dengan kultur/budaya bangsa Indonesia sendiri. Paling tidak dari bahasa dulu saja. Namun untungnya, dengan adanya konten-konten luar negeri yang diadaptasi, bukan berarti mematikan konten-konten local yang made in Indonesia asli, seperti Bolang, aka Bocah Petualang, Laptop si Unyil, Dunia Air, dan lain sebagainya.

Saya agak cukup aware dengan beberapa tayangan televisi yang ditonton adik saya yang paling kecil. Sesuai pada sifatnya, anak-anak memang sangat menjauhi tayangan-tayangan yang sifatnya membosankan. Jangankan anak-anak, saya saja cukup bosan dengan tayangan edukasi yang 100% isinya pendidikan. Salah dua tayangan yang sering kami nikmati bersama tiap siang hari adalah Laptop si Unyil, dan Dunia Air. Program ini sangat membantu pemahaman akan sesuatu, terkadang bahkan menambah pengetahuan dan informasi bagi anak-anak. Ilustrasi-ilustrasi yang diberikan dalam bentuk animasi yang didukung oleh audiovisual yang menarik membantu pemahaman anak-anak dari pengetahuan dasar yang mereka miliki sebelumnya. Bahkan mungkin ada hal-hal baru yang didapatkan dari program edutainment seperti Unyil, misalnya. Sebagai contoh, ketika saya dan adik saya menonton tayangan si Unyil, ada informasi yang menurut kami baru, yaitu dimana adanya Watermelon Day di India yang diperingati setiap hari Kamis, untuk membiasakan anak-anak sekolah dengan pola makan yang sehat, dan menjauhi junk-food. Atau mungkin, program Dunia Air yang mendukung pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adik saya di sekolahnya. Banyak sekali pengetahuan/ informasi yang bisa dimanfaatkan dari konten-konten local Indonesia yang bersifat edutainment. Apalagi, pada dasarnya anak-anak adalah tipe-tipe “audiovisual”, menurut saya. Karena mereka lebih dapat cepat menyerap dan menangkap apa yang mereka lihat dan mereka dengar, dibanding harus membaca buku-buku pelajaran yang sesuai perkembangan zaman sekarang sudah semakin tebal seperti buku-buku anak kuliahan.

Untuk itu, akhir kata, saya ingin mengatakan, MARI KITA DUKUNG KONTEN LOKAL UNTUK MASA DEPAN ANAK-ANAK INDONESIA,YANG LEBIH BAIK DAN LEBIH

Senin, 15 Maret 2010

PENDIDIKAN ALA INSTITUSI VERSUS PENDIDIKAN ALA MEDIA

0


Jika pendidikan adalah sebuah proses belajar dan mengajar dalam sebuah wadah/ institusi pendidikan, bagaimana halnya dengan media interaktif atau program TV edukasi yang mengusung konsep edutainment?

Arti dari belajar-mengajar sendiri adalah proses mendapatkan pengetahuan atau mengembangkan kemampuan dan kebiasaan baru. Lantas, apakah pendidikan hanya dapat dikatakan sebuah proses belajar-mengajar apabila sebuah institusi yang melakukannya?

TIDAK. Mari kita lihat.

Edutainment adalah bentuk hiburan yang dirancang untuk mendidik serta menghibur. Pendek kata, hiburan kita dapat, pengetahuan pun kita raih. Audience tak perlu sampai berlagak mengerutkan dahi (atau memang mengerutkan dahi) untuk berpikir keras dan mencernanya mati-matian. Dan akhir-akhir ini, media (dalam hal ini televisi) sudah cukup banyak membuat program TV yang sifatnya edutainment, baik itu yang ditujukan untuk anak-anak, maupun orang dewasa. Tak sebatas Dora, dan semacamnya, program- program televisi pada siang menuju sore hari biasanya cenderung mengarah kepada edutainment. Laptop si Unyil misalnya, banyak informasi ataupun pengetahuan yang tak hanya bermanfaat kepada anak-anak, bahkan saya sendiri pun yang notabene seorang mahasiswa. Pengetahuan yang didapat dari program- program TV seperti ini biasanya lebih bersifat insight, karena penyampaiannya yang memang bukan secara formal, selain itu lebih memberikan pemahaman yang lebih dalam kepada masing- masing audiencenya.

Konsep edutainment sendiri dirasa sangat membantu dalam penyampaian informasi maupun pengetahuan karena kecenderungan audience (baik anak-anak maupun dewasa) pada umumnya yang merasa bosan dengan program TV yang 100% edukasi. Rasanya sangat manusiawi sekali, saya pun demikian. Karena itulah mengkombinasikan entertainment dan education merupakan upaya yang tepat dalam rangka ikut mencerdaskan anak bangsa. Dan pada kenyataannya pun, apa yang disampaikan lebih mudah diingat dan disimpan. Karena mungkin hal- hal tersebut didukung oleh audiovisual yang baik, ditambah dengan adanya ilustrasi animasi yang dapat lebih membantu anak-anak maupun orang dewasa sendiri untuk memahami dan mengingatnya.

Tanpa mengabaikan pendidikan formal yang dilakukan oleh institusi, baik keduanya, pendidikan formal yang diberikan oleh wadah/ institusi pendidikan formal, maupun pendidikan informal (informasi ataupun pengetahuan) yang disampaikan oleh media adalah sama baiknya, dan saling melengkapi. Pendidikan formal di sekolah ataupun kampus tidak lebih baik, begitu pun program-program TV edutainment. Pendidikan formal dapat memberikan pemahaman dasar kepada seseorang sebelum ia memperoleh pemahaman yang lebih dalam melalui apa yang ia lihat di media misalnya. Dan ada beberapa hal yang mungkin tidak didapatkan melalui pendidikan formal, namun bisa didapatkan melalui program- program TV edutainment, ataupun sebaliknya. Terutama untuk pengetahuan umum yang terkadang tak disampaikan oleh guru/pengajar di sekolah atau di kampus, ataupun yang tidak disebutkan di buku ataupun literature kampus.

Pada akhirnya, saya menyimpulkan bahwa, baik pendidikan yang berasal dari lembaga/institusi pendidikan maupun pendidikan yang berasal secara informal dari program- program TV yang berkonsep edutainment adalah sama pentingnya. Dan sangat penting untuk menumbuhkan dan menciptakan lebih banyak program yang sifatnya mendidik (sekaligus menghibur) daripada harus mem-beranak pinang-kan reality- reality show penuh kebohongan dan penipuan publik.

Senin, 08 Maret 2010

Sejauh Mana Indonesia Akan Sanggup Menghadapi Masa Depan Yang Modern dan Berbasis Teknologi Yang Mudah Diakses?

0

Apa yang dipikirkan orang- orang ketika mendengar kata teknologi? Kebanyakan dari mereka akan mengatakan INTERNET. Ya, internet memang merupakan salah satu bentuk teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang sangat cepat.

Siapa yang tidak mengenal Facebook? Siapa yang tidak mengenal YouTube? Siapa yang tidak mengenal Kaskus? Semuanya dapat dikatakan sebagai "buah karya" internet yang semakin canggih dan berkembang. Segala sesuatunya menjadi mudah, praktis, menghemat waktu dan biaya. Masih ingat tentunya bagaimana "tradisi" kita berkomunikasi ataupun mencari- cari lagu yang kita sukai, ketika 7 sampai 8 tahun yang lalu? Dibutuhkan waktu yang lama dan biaya yang lumayan mahal agar tujuan dapat tercapai. Namun lihatlah sekarang, tak perlu sampai Rp 20.000 (perbandingan rata-rata harga kaset zaman dulu) untuk mendapatkan semuanya.

Jauh daripada itu, internet juga dirasa sangat membantu dalam dunia pendidikan. Manfaat internet yang paling terasa di kampus adalah dengan adanya sistem database online untuk mahasiswa maupun dosen yang memungkinkan mahasiswa ataupun dosen lebih mudah mengakses segala sesuatu yang berkaitan dengan perkuliahan, sekalipun sedang tidak berada di lingkungan kampus. Dan yang akhir-akhir ini sedang marak-maraknya yaitu sistem e-learning (belajar jarak jauh) atau lebih tepatnya sistem e-course (kuliah jarak jauh) yang memungkinkan mahasiswa dan dosen melakukan perkuliahan ataupun proses belajar- mengajar di luar jam kuliah (tanpa harus bertatap muka secara langsung). Beberapa universitas di Indonesia sudah mulai menerapkan sistem ini untuk mendukung perkuliahan mereka agar tetap berjalan. Di samping menghemat waktu, juga menghemat biaya. Saat ini kita sudah tidak bisa heran lagi dengan banyaknya "e-" yang mulai berkembang.

Lantas sejauh mana Indonesia akan sanggup menghadapi masa depan yang modern dan berbasis teknologi yang mudah diakses? Fakta yang terjadi dewasa ini memang mengarah pada kondisi yang mempermudah masyarakat dalam mengakses informasi maupun melakukan komunikasi melalui internet, misalnya dengan munculnya produk-produk telepon seluler (handphone) yang terfasilitasi internet, tempat- tempat umum yang menyediakan fasilitas hotspot/ wifi, warung-warung internet (warnet), ditambah bermunculannya berbagai jenis modem internet yang semakin mempermudah masyarakat dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Namun dengan biaya akses internet yang masih tergolong cukup mahal di Indonesia, ke depannya bisa menjadi faktor penghambat dalam menghadapi masa depan yang semakin modern dan canggih. Walaupun rasanya tak bisa disalahkan juga mengapa biaya akses internet di Indonesia bisa cukup mahal. Tak lain karena penggunaan internet oleh user Indonesia yang lebih banyak mengakses ke situs luar negeri dibandingkan ke situs dalam negeri sendiri, sehingga ISP (Internet Service Provider) harus mengeluarkan biaya yang cukup besar agar bandwidth luar negeri tersebut dapat digunakan oleh penggunanya. Biaya akses internet pun pada akhirnya menjadi lebih mahal. Bersyukurlah jika sekarang biaya akses internet perlahan- lahan mulai turun dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Meski itu pun masih belum semurah biaya akses internet di luar negeri, seperti Jepang dan Singapura misalnya. Memang, akan membutuhkan usaha yang cukup keras untuk Internet Service Provider di Indonesia, karena tak bisa dipungkiri bahwa internet sudah menjadi kebutuhan bagi banyak orang.

Dan yang perlu juga diperhatikan adalah, sebanyak dan secanggih apapun suatu teknologi, akan memberikan manfaat apabila teknologi itu mudah diakses dan masyarakat mengerti bagaimana menggunakannya. Melihat perkembangan dan pengaruh internet yang sedemikian besarnya saat ini saja, bagaimana nanti? Modernisasi dan globalisasi yang terjadi akan semakin mendorong manusia untuk mau tak mau dapat beradaptasi dengan teknologi yang ada. Jika tidak, mereka akan ketinggalan. Dan untuk itu, berilah kemudahan semudah mungkin untuk masyarakat dalam mengakses teknologi informasi dan komunikasi, seperti internet, yaitu denga menawarkan biaya akses yang murah pula, agar masyarakat Indonesia, secara merata, dari berbagai usia, dan kelas sosial- ekonomi dapat mengenal dan menggunakan internet. Apalagi jika dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia dapat mengembangkan dan mengandalkan teknolgi dan contentnya sendiri, tanpa harus menjadi follower ataupun "korban teknologi", saya pikir Indonesia akan lebih baik dari sekarang dan lebih siap dalam menghadapi masa depan yang modern.